ALAMAT CAMPINA


Ternyata Banyak Pertanyaan tentang dimana alamat CAMPINA dan siapa Contact person nya. Mereka banyak yang tertarik dengan Program CAMPINA SCOOP COUNTER yang memang MENARIK untuk di coba..... seperti ulasan saya terdahulu CAMPINA BOLEH DI COBA.

Sebenarnya Alamat dan Contact Person untuk CAMPINA SCOOP COUNTER ada di webnya campina sendiri Klik disini.
Tetapi Jika Rekan2 semua sudah terlanjur masuk ke Rumahku ini , rasanya saya akan merasa bersalah jika tidak memberikan informasi yang memudahkan .
Untuk itu di bawah adalah alamat dan Contact person CAMPINA yang saya copy dari webnya CAMPINA. Mudah - mudahan bermanfaat .

Untuk informasi lebih lanjut, mohon hubungi Layanan Bebas Pulsa 0 800 1 ES KRIM (375746) atau Email: customer_care@campina.co.id atau hubungi Kantor Perwakilan terdekat di :

JABOTABEK
1. Kosambi
Jl. Raya Duri Kosambi 12, Jakarta Barat
Telp: (021) 541 4141
Fax : (021) 619 4558
Contact Person : Bp. Agus Jiwantoro, Bp. Willi

2. Buaran
Multi Piranti Graha
Jl. Radin Inten II No. 2 Buaran, Duren Sawit Jaktim
Telp: (021) 863 2771-3
Fax: (021) 863 2774
Contact Person : Bp. Wisnu, Bp. Nasrul

3. Parung
Kampung Lebak Wangi RT 001/RW 02
Desa Pamegarsari Kec. Parung, Bogor
Telp: (0251) 617 609
Fax: (0251) 600 220
Contact Person : Bp. Triyono, Bp. Erwin

JAWA BARAT
1. Bandung
Jl. Holis No. 306, Bandung
Telp: (022) 603 4902
Fax: (022) 603 0646
Contact Person : Bp. Purwanto, Bp. Askur

2. Cirebon
Jl. Samadikun No. 17
Telp: (0231) 205 685
Fax: (0231) 205 685
Contact Person : Bp. Rudi Prasetyanto

JAWA TENGAH
1. Yogyakarta
Jl. Pandean No. 2, Yogyakarta
Telp: (0274) 376 711
Fax: (0274) 376 711
Contact Person : Bp. Sunaryo, Bp. Nanang

2. Semarang
Jl. Terboyo Industri Timur IV Blok G-45 Semarang
Telp: (024) 658 3711
Fax: (024) 658 3711
Contact Person : Bp. Andri Kurniawan, Bp. Yulian

3. Purwokerto
Jl. Suprato Kotasari, Purwokerto
Telp: (0281) 630 402

JAWA TIMUR
1. Surabaya
Jl. Berbek Industri I No. 4, Surabaya
Telp: (031) 843 2032
Fax: (031) 843 1985
Contact Person : Bp. Dwi Saryono, Bp. Zohan

2. Malang
Jl. Tenaga Baru I No. 10 Blimbing, Malang
Telp: (0341) 493 784
Fax: (0341) 493 785
Contact Person : Bp. Soetikno

3. Jember
Jl. Cendrawasih No. 9, Jember
Telp: (0331) 468 048
Fax: (0331) 486 048
Contact Person : Bp. Danny Sucianto

4. Nganjuk
Jl. Raya Guyangan No. 36, Nganjuk
Telp: (0358) 322508
Fax: (0358) 322508
Contact Person : Bp. Andra Krisyudantha

TetapBerKreasi

Berbisnis atau bekerja adalah sebuah pilihan


Kita diajarkan untuk Kejarlah Akhirat mu seakan kamu akan mati esok hari ( bahkan tidak ada yang dapat mencegahnya apabila kita mati detik ini ) dan Kejarlah Dunia mu seakan kamu akan hidup seribu tahun lagi.


Di bawah ini adalah artikel di "Inview Magazine" edisi 27/Oktober halaman 14-15 ("a free magazine") yang Mudah2an bisa menjadi motivator buat kita.......,

Mulai Cerita:-----------------

FLAG CARRIER.
Menjadi seorang entrepreneur mungkin masih jadi impian bagi sebagian orang. Namun tidak bagi Budi Rachmat. Ia berani keluar dari tempat kerjanya di sebuah perusahaan besar 'consumer goods' yang telah memberinya gaji sekitar Rp.10juta/bulan di tahun 2003. Merasa mantap berbisnis, ia pun memilih waralaba minimarket.

Budi Rachmat: "BEKERJA JADI PILIHAN, BUKAN KEWAJIBAN".

Ternyata, pilihan lulusan Sastra Cina Universitas Indonesia ini tak salah. Kini, penghasilannya sudah mencapai 6 kali lipat dari semula dan Budi telah memasuki tahapan pencapaian kebebasan finansial ala Robert T.Kiyosaki. Dua buah minimarket di Bendungan Jago dan Kedung Halang, Bogor menjadi sumber pemasukan utamanya.

Namun sosoknya tetap sederhana. Saat 'Inview' bertandang ke salah satu toko miliknya di Bendungan Jago, Kemayoran, Jakarta, ia memberikan kartu nama dan berujar singkat: "Ini alamat rumah saya, soalnya kini saya banyak bekerja di rumah". Berikut perbincangannya:

APA PERTIMBANGAN ANDA SAAT KELUAR DARI PEKERJAAN DAN TERJUN BERBISNIS?
Sebetulnya sejak 2002 saya sudah punya keinginan keluar, saat anak saya lahir. Usia saya waktu itu 40 tahun dan usia pensiun di perusahaan saya adalah 55 tahun. Artinya, ketika saya pensiun, usia anak saya baru 15 tahun, padahal dia baru selesai sekolah pada usia 25 tahun. Jadi, saya harus membiayai minimal 10 tahun lagi sejak saya pensiun nanti. Harus dibayar dari mana sisa 10 tahun? Karena kalau sudah pensiun 'income' akan turun. Akhirnya saya niat berbisnis.

LALU KENAPA MEMILIH WARALABA MINIMARKET?
Karena saya tidak bisa bisnis maka saya carinya waralaba. Ada pameran waralaba saya datang, sampai akhirnya saya putuskan ambil yang ritel saja karena tahun lama. Saat itu ada dua besar pilihan minimarket dan sebenarnya keduannya sama saja. Tetapi yang satu responnya kurang cepat. Saya mau jadi investor dan datang ke sana minta data, tapi respon dia lama. Sedangkan di minimarket satunya cepat sekali, bahkan sampai level direktur ketemu juga. Akhirnya saya ambil.

LALU MODEL KERJASAMA SEPERTI APA YANG ANDA PILIH?
Sebenarnya saya mengikuti Robert T.Kiyosaki dengan membaca buku-bukunya. Menurut Kiyosaki, ambil bisnis harus hasilnya 'cashflow' kalau 'paper asset' baru hasilnya 'capital gain'. Kalau saya, bila saya ambil sekarang maka bulan depan saya dapat berapa duitnya. Ketika saya investasi di sini maka bulan depan saya sudah tahu akan dapat berapa. Jadi, saya ambil model yang 'take over'.

KENAPA?
Tadinya toko ini milik Alfamart sudah selama satu tahun. Sewaktu saya ambil saya sudah tahun berapa pemasukan selama tiga bulan sebelumnya. Sesudah saya komit mau ambil, pihak mereka secara terbuka memberikan laporan keuangannya. Saat itu saya sudah tahu bahwa bulan depan saya akan mendapat Rp.13jt bersih seperti dalam laporan tiga bulan terakhirnya. Waktu itu omzetnya sekitar Rp.325 juta/bulan dan kini omzetnya antara Rp.375 juta sampai Rp.400 juta/bulan.

SAAT INI, BERAPA PENDAPATAN BERSIH TOKO DI BENDUNGAN JAGO?
Rata-rata Rp.17-18 juta per bulan. Sedang yang di Kedung Halang sekitar Rp.13 jutaan.

DARI MANA DANA UNTUK MEMBELI WARALABA INI?
Dari tabungan saya selama bekerja. Saya juga pernah bekerja di Singapura dengan gaji yang besar dan utuh.

Pada bulan Mei 2003, Budi sudah memiliki Alfamart Bendungan Jago. Menurut suami Dini Anggraini yang dikarunia tiga orang putri ini, biaya 'take over' ini adalah Rp.450 juta dengan luas 120 m2 dan 45 rak. "Ketika sudah berjalan setahun lebih dua bulan, saya baru berani minta kredit ke Bank Bukopin untuk 'take over' toko di Kedung Halang dengan biaya Rp.550 juta dengan luas 70 m2 dan 36 rak. Memang labih mahal karena beda tahun belinya," papar Budi. Saat itu, toko di Kedung Halang dapat menghasilkan penghasilan bersih Rp.11 juta/bulan. Kini ia sedang mengincar kepemilikan minimarket yang sama untuk ketiga kalinya.

BAGAIMANA STRATEGI ANDA SAAT MULAI BERBISNIS?
Waktu keluar dari pekerjaan, saya adalah pengangguran. Lalu saya bikin PT Tiga Bintang dan di PT ini saya direktur. Tapi sebenarnya semuanya yang mengerjakan adalah Alfamart seperti pembukuan, training dan orang-orangnya karena dia sudah memiliki sistem. Kecuali orang kesatu dan kedua adalah dari saya. Jadi, ini adalah "passive income' saya.

APA PERAN ANDA SEBAGAI INVESTOR?
Sebetulnya saya cuma mengawasi saja bahkan saya bisa hanya mengawasi dari pembukuan saja. Setiap bulan saya terima pembukuan lengkap. Saya juga alokasikan waktu saya minimal dua minggu sekali untuk datang ke toko. Bagaimana pun mereka juga karyawan saya, kalau saya datang mereka merasa diperhatikan.

APA OBSESI ANDA KE DEPAN?

Waktu keluar dari pekerjaan saya pada Mei 2003, target pertama adalah di bulan Mei 2005 pendapatan saya tiga kali lipat dari 'expenses' saya. Target itu tercapai. Target kedua adalah Mei 2008 saya harus punya 'passive income' tiga kali lipat dari 'expenses'. Target selanjutnya adalah bulan Mei 2010 sudah 'sustainable'.

BUKANKAN BISNIS JUGA AKAN MENGALAMI NAIK TURUN?
Benar, oleh sebab itu sewaktu menjalankan bisnis kita tahu kenapa harus tiga kali lipat, karena bisnis bisa naik turun. Sekarang saya dapatnya gede, tapi kadang turun. Kalau saya sudah dapat tiga gali lipat, kalau turun maka turunnya tidak lebih rendah dari satu kali lipat. Pada 2010 itulah saya harapkan 'sustainable', tidak bakal turun tapi tetap naik. Lebih aman. 'Passive income' artinya tanpa bekerja 'income' sudah masuk. Bekerja pun jadi pilihan, bukan kewajiban. ** (klm)




Mudah2an bermanfaat


DenMasBroto


Melihat anak belajar naik sepeda


Dua minggu lalu, hari sabtu saya liburan dan asyik memperbaiki sepeda anakku yang mulai karatan. Kenapa? karena anakku yang sekearang umurnya 4 tahun sedang BERSEMANGAT.... dan teriak "AYAH......., kakak Juan(temen mainnya) sudah bisa naik sepeda roda dua? PINGIN AYAH......AJARIN.....?"

Begitu kira kira permintaannya saat itu. Saya salut pada anakku ini.... SEMANGAT-nya untuk bisa naik sepeda roda dua sangat besar.Dari situ saya perbaiki sepedanya yang dulu dia pakai yang sebelumnya pakai roda tambahan.
Sabtu siang saya lihat begitu semangatnya anak saya saat mencoba mengayuh sepeda.... (he he he ikutan cape deh... lari larian megangin sepedanya)......
Sorenya dicoba di lepas... dan bisa 2 meter ... Dan itu membuatnya tambah semangat.... AYAH... KAK LEA udah bisa naik sepeda roda dua.... tapi beberapa saat kemudian dia terjatuh... Dengan tanpa menghiraukan rasa sakitnya dia belajar lagi dan terus belajar, dan akhirnya besoknya ALHAMDULILLAH , Alloh menyambut permintaan anak saya. Alloh berkehendak supaya anakku bisa naik sepeda roda dua....Matur Sembah Nuwun Gusti Alloh......

Ada hikmah ketika kita belajar dari anak naik sepeda....:

1. Untuk mencapai tujuan yang besar butuh SEMANGAT, dan NIAT yang kuat.
2. MENCOBA adalah senjata utama untuk mencapai tujuan.
3. TERJATUH adalah ujian untuk mencapai tujuan.
4. BERHASIL adalah hasil jerih payah yang kita lakukan.

Jadi dari anak belajar sepeda ini harus dilalui oleh kita yang mau ber-entrepreneur ria.... banyak bisnis yang sukses dan banyak yang belum berhasil..... mungkin kuncinya kurang atau bahkan tidak pernah mencoba....

Yuk sama sama mencoba dan terjatuh....
Yuk BERHASIL bersama..



DenMasBroto.

Petuah Buat Anda "Karyawan"


CUEK TERHADAP WAKTU = ‘BOM’ WAKTU

“The bad news is time flies. The good news is you're the pilot” (Michael Althsuler)

Sudah hampir satu setengah jam berlalu dari waktu yang dijanjikan, namun klien penting yang saya tunggu (dan saya pikir tengah mengharapkan kehadiran saya), belum juga ada tanda-tandanya akan datang. Handphone beliau off. Staffnya tak bisa memastikan apakah pimpinannya masih lama datang atau sebentar lagi. Memang ini bukan yang pertama kali terjadi, tapi tetap saja situasi begini bikin saya bengong. Ketika akhirnya bertemu, beliau muncul dengan sumringah. Tidak tampak, apalagi terucap, penyesalannya membuat saya menunggu hampir dua jam. Pun tidak tampak bekas-bekas adanya kondisi urgen yang membuatnya terlambat. Jelas, ini hal biasa untuknya.

Meski sudah millennium baru, di mana begitu banyak teknologi, mulai dari HP, email, jam dan agenda yang bisa digunakan sebagai ‘reminder’ dan alarm, namun budaya jam karet kita terasa betul masih begitu mengakar. Meeting-meeting yang terlambat, deadline yang dilanggar, janji dipatahkan, pesawat delay, adalah berita ’biasa’. Gawatnya, daripada sekuat tenaga mengupayakan ’on time’, kita malah kadang sekuat tenaga memeras otak untuk mencari ’excuse’ atas keterlambatan kita, mulai dari jalanan macet, anggota tim sulit diatur, agenda ketinggalan Padahal label kalau bangsa kita ini punya budaya ’jam karet’ sudah puluhan tahun umurnya, namun nyata-nyata belum kadaluarsa juga. Apakah kita sama sama-tidak merasa bahwa kerongsokan pemanfaatan waktu ini sudah jadi bom waktu, tinggal tunggu meledaknya? Bukankah untuk mengupayakan berbagai keunggulan dan bisa ’menang’, di era kompetitif ini kita perlu terbiasa dengan ”deadline”, urgensi, efisiensi, bahkan upaya ”mencuri waktu”?

STOP Buang Kesempatan Emas
Seorang teman, pemilik sebuah kontraktor bangunan besar menceritakan kiatnya dalam memenangkan kompetisi. ”Yang penting bangunan kita bangun tepat waktu. Bayangkan betapa banyaknya sumberdaya, material dan bunga bank yang terbuang bila ada delay”. Di sini hukum klasik ”waktu adalah uang” benar-benar berlaku. Sebaliknya, teman saya kehilangan kesempatan kerja yang ia impikan karena terlambat hadir pada saat wawancara. Sepupu saya sport jantung, hampir tidak jadi menikah, karena penghulunya tidak bersedia menunggu lebih lama karena harus menikahkan di tempat lain. Pernahkah kita kehilangan pelanggan karena servis kita lama, tidak sesuai waktu yang dijanjikan?

Setiap orang yang terlambat, lupa janji, teledor berlama-lama dalam bekerja, sebenarnya punya rasa bersalah dalam dirinya. Namun, kita banyak tidak menggarap rasa bersalah itu dengan melakukan tindakan perbaikan. Sebagai akibat, kebiasaan bekerja dengan deadline, menghormati waktu orang lain, tidak menjadi obsesi individu bahkan sudah tidak terasa mengganggu lagi. Padahal, sebaliknya, ”waktu” di-”mainkan” dan dimanfaatkan orang lain untuk berbisnis. Dalam bisnis pelayanan misalnya, jika kita ingin menyenangkan hati ’customer’, maka menjaga komitmen waktu sebetulnya adalah sarana yang sangat baik, sekaligus paling sederhana. ”Saya memilih perusahaan penerbangan ini, karena selalu tepat waktu” demikian komentar pelanggan. Bukankah hal ini sebuah fitur pemasaran yang ampuh?

Mungkin kita tak boleh lagi menunda untuk mem-benchmark perusahaan yang sudah sedemikian paham dan ’alert’ bahwa waktu adalah hidup–matinya, dan menciptakan berbagai tools yang membantu untuk selalu waspada dan menjualnya sebagai nilai tambah, misalnya saja, Mc Donald punya jam pasir, di mana pesanan sudah harus muncul sebelum pasirnya habis, atau mereka akan kena penalti, harus memberi hadiah ke pelanggan.

Bukan Sekedar Sibuk, tapi ‘Sibuk’ yang ‘Added Value’
Kita tahu bahwa memang ada orang yang lebih pintar, lebih menawan, atau lebih trampil dari yang lain. Dan, kita juga tahu bahwa setiap kita punya ’modal’ waktu yang sama, yaitu 24 jam atau 1440 menit atau 86400 detik sehari. Dengan modal waktu yang sama, kita perlu menguasai trik-trik untuk bisa unggul. Seperti kalimat bijak Henry David Thoreau, “It's not enough to be busy, so are the ants. The question is, what are we busy about?

Teman saya, seorang eksekutif yang super sibuk, memimpin beberapa perusahaan sekaligus, selalu kelihatan ”punya banyak waktu” untuk pelanggan maupun anggota timnya. Dengan santainya ia memilih pertemuan, tugas, proyek yang penting saja untuk digarap. Sisanya, ia delegasikan. Ia cermat mengkalkulasi waktu perjalanan di Jakarta, menghafal spot-spot kemacetan lalu lintas, sehingga sangat jarang ia terlambat menghadiri pertemuan. Ia pun tidak lupa ”mengulik” waktu untuk beristirahat, berelaksasi, merawat kecantikan, berkomunikasi telpon atau bahkan berkontemplasi. Ia yang senang bila disebut sebagai orang yang ”santai”, seolah tidak pernah dikejar waktu. Inilah sebenarnya individu yang ”advanced” atau canggih dalam pemanfaatan waktu.

Ambil Langkah Nyata, Sekarang!
Seorang kolega di sebuah perusahaan terkemuka, setiap kami bertemu mengeluhkan budaya ngaret di kantornya yang begitu parah. Orang-orang biasa datang ke kantor terlambat lebih dari satu jam, istirahatnya diperpanjang semau gue dan pulang lebih cepat tanpa terlalu merasa bersalah. Suatu hari, saya menemukan banner besar dipasang di tiap lantai di kantornya yang berbunyi,”Ayo dooong, kerja tepat waktu…” Ketika pertama melihat, saya tersenyum sendiri karena membaca nuansa ‘desperado’ dan ‘capek deh…’ di balik pesan sederhana itu.

Namun, kemudian teman saya yang bekerja di kantor tersebut menceritakan betapa mereka kini mulai meng-enjoy suasana efisiensi waktu, saling hukum, saling monitor, saling memberi hadiah dan bahkan merayakan efisiensi dan efektivitas waktu. Satu hal yang tidak bisa kita lupakan, suka tidak suka, campaign efisiensi waktu yang paling ampuh dan sederhana adalah bila para manager, termasuk “top management”, mau berkorban pasang badan sebagai role model yang ‘walk the talk’. Bayangkan betapa “happy”-nya kita bila sikap efisien waktu ini kemudian tertular ke bawahan, pelanggan bahkan ke lingkungan yang lebih luas lagi. Reputasi perusahaan bisa menjadi “daya jual” tersendiri.


di copy dari tulisan
Sylvina Savitri & Eileen Rachman
EXPERD

Soft Skills Training

Ditayangkan di KOMPAS, 10 November 2007



TROCADERO langkah awal DMB Groups



Mampir ya kalau ke BANDUNG.......

Awas Nak Nanti Jatuh !


Pasti Judul di atas sering kita dengar di keluarga-keluarga dengan anak kecil manisnya, "Awas Nak .... Nanti Jatuh !", "Awas ... ! Jangan ... ! Nanti kepleset lho !"

Itulah larangan - larangan yang biasanya dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya jika anaknya melakukan hal-2 yang menurut orang tuanya bakal membuat CILAKA.
Salahkah orang tua?
Dari sisi niat : orang tua mana sih yang mau membuat celaka anaknya? jadi niat orang tua tulus ,... supaya anaknya tidak cilaka, dengan asumsi2 persepsi yang dipunyai orang tua tadi, misal anak panjat pagar.... asumsi orang tua , bisa jatuh dari pagar, reaksi orang tua "Awas nak, jangan naik pagar itu nanti jatuh !".
Dari sisi EFEK : Akan sangat mempengaruhi perkembangan anak, anak akan merasa takut untuk mencoba, karena sudah dibatasi oleh kata-kata orang tua. Anak kedepan akan kurang kreatif.... dan kemungkinan jatuh menjadi lebih besar lagi....

Itulah Kekuatan Dari Kata - Kata ....."The POWER of WORDS"

Begitu pula dengan bisnis..., biasanya seorang istri akan berkata pada suaminya "Jangan buang - buang uang lah Pak.... kalau gagal gimana?" , "walah... pasti gagal lagi !"

Apa yang hilang untuk 2 kasus ini ? KESEMPATAN, PENGALAMAN dan KEBERHASILAN.

Sang Anak kehilangan KESEMPATAN bisa naik pagar, PENGALAMAN naik pagar, KEBERHASILAN menaiki pagar...

Suami kehilangan KESEMPATAN untuk belajar bisnis, PENGALAMAN bisnis, KEBERHASILAN berbisnis..... gimana mau berhasil jika belum memulai?

Hayuk ,...... Pikir, Mulai dan Nikmati BISNIS Anda, jangan hanya Pikir,pikir dan pikir......

Siapa lagi yang mau merubah nasib kita kalau bukan kita sendiri dengan Izin Alloh?

Hindari kata-kata negatif yang justru akan membuat diri kita menjadi magnit keburukan... sehingga banyak keburukan-keburukan yang akan nempel ke kita......

Perbanyak Percaya Diri.... buat diri kita menjadi magnet kebaikan.... yang membuat kehidupan kita jadi barokah... Amin


Salam,

DenMasBroto

Plan and Action dari Sang Burung Pelatuk


Dari tausiah dhuhur hari Rabu 3 Oktober 2007 , ada yang tepat dengan tema blog ini , yaitu kisah nyata perjuangan sang burung pelatuk.
Saya terus terang juga baru tahu ,"SUBHANALLOH"....

Memang Maha Bijaksana Alloh sang pemilik alam raya, Alloh Sang Maha Merencanakan, Tiada Ujian kecuali kepada orang2 yang mampu.

Tahukah anda apa yang dilakukan burung pelatuk di musim buah?
Tahukah anda siapa yang sebenarnya menggerakkan burung itu?

ACTION.....

itulah jawabannya.... TINDAKAN.
Tindakan untuk SAVING , menyimpan makanan ..... untuk siapa?
Tidak hanya untuk dia tetapi untuk keturunannya....
Bayangkan..??..??..??
Ternyata setiap musim buah tiba, burung2 ini menyimpan biji2 buah ke dalam lubang2 kecil yang dia buat di batang-batang pohon. Dan jumlahnya ....RIBUAN biji....

PLAN......

Burung ini sudah tahu kapan waktunya untuk savings dan kapan waktunya mengeluarkan , dalam arti lain dia saja mempunyai plan atau rencana kedepan yang gemilang...

Sudahkah kita menang secara mental dengan burung pelatuk ini?

Apa yang sudah kita persiapkan untuk anak cucu kita nanti ?

Sampai kapankah kita hidup?

Sampai kapankah tenaga kita bisa dijadikan modal buat cari biji bijian yang akan di makan anak2 kita?


Bayangkan saat itu tiba.....saat dimana kita Pensiun.... atau ekstrimnya saat kita kembali kepada Nya. Sudahkah kita persiapkan buat generasi kita? KULIAH? ahhh itu mah sudah sewajarnya..... Sudahkan kita ciptakan system bisnis yang bisa kita wariskan?

Mari belajar dari Sang Burung Pelatuk.
Persiapan yang baik untuk generasi kita mendatang , dengan tujuan yang lebih baik , DUNIA & AKHIRAT.


Salam,


DenMasBroto

T H R ( Tunjangan Hari Raya )


TUNJANGAN HARI RAYA .......
Jika kita berprofesi sebagai KARYAWAN atau istilah kerennya EMPLOYEE pastilah tidak asing lagi dengan THR. Sesuatu yang dinanti menjelang lebaran. SUDAHKAN ANDA MENDAPAT THR?
Dulu sewaktu kerja pertama kali senang rasanya saya dapat THR walaupun proporsional...... maksudnya karena belum genap 1 tahun ..ya .. dapat THRnya proporsional misal kerja 1 bulan berarti 1/12 x THR full.

Kalau kita saja perlu THR itu SUDAHKAH kita memberikan hak THR orang lain ?
Punyakah kita Pembantu Rumah Tangga(PRT) di keluarga kita?
Sudahkan kita berikan hak THR nya ? kalau belum USAHAKAN ! BERIKAN ! Dia akan sangat sangat berterima kasih........apalagi dilebihin...... mungkin dengan syaraf bawah sadarnya OTOMATIS dia akan berdoa buat kita......sebuah do'a kebaikan. Coba kalau tidak mungkin tetap berdo'a tapi do'a keburukan ......kali ye.....
Punyakah kita karyawan ?
Sudahkah kita alokasikan dana buat THR mereka? kalau belum, BERIKAN!
KENAPA?
Karena dengan mereka kita bisa raih cita2 kita, dengan mereka kita bisa melaksanakan bisnis sampingan kita , dan dengan mereka yang jelas kita sangat terbantu.
Coba Bayangkan, Jika terbiasa dengan PRT , nanti habis lebaran PRT kita tidak balik.... apa yang akan kita rasakan? ditambah lagi jika suami / istri bekerja sebagai karyawan...... dengan 2 anak balita dirumah.... apa yang akan terjadi?
Jika kita punya WARUNG TEGAL, dengan mempekerjakan 3 orang, dan setelah lebaran orang tsb. tidak balik lagi ke kita ..... apa yang akan terjadi dengan kita....... PUSING... BINGUNG..... MAU MARAH..... KESAL.... SEBEL.... NGUMPAT.... itu mungkin saja terjadi.
MEREKA adalah orang orang yang berjasa buat kita, mereka termasuk keluarga kita, mereka mungkin jauh lebih baik daripada kita di mata Alloh. Berikan hak THR kepada mereka, kalau bisa dilebihin......
SURGA?
Mungkin merekalah penghuni-penghuni SURGA itu...... karena penghuni surga kebanyakan adalah orang2 fakir, mungkin mereka fakir harta tapi kaya amal, kaya ibadah, dan hati hatilah wanita yang tidak berjalan di jalan Nya dan wanita yang tidak nyaman dengan aturan Alloh , karena kebanyakan penghuni neraka adalah kaum wanita....

Kembali ke TOPIK..... mau beramal?
Perbanyak THR, Berikan Pekerjaan ke banyak orang, selagi kita berkecukupan.
Gunakan waktu cukupmu sebelum datang waktu sempitmu.
Gunakan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.

Caranya ?
CIPTAKAN BISNIS! .... IKHTIAR .... BERDO'A .... TAWAKAL...
Gunakan metoda BOTOL (Berani Optimis dengan Tenaga Orang Lain.....)
Sehingga pada hakikatnya bukan kita yang menggaji mereka, tetapi merekalah yang menggaji kita, karena dengan kerja mereka kita ikut mendapat penghasilan , INSYA ALLOH.
Beri kesejahteraan yang baik buat mereka, maka mereka akan lebih banyak berdoa kebaikan buat kita.



Salam,


DenMasBroto Group